AL HAIDAR EDUCATION
Mulai dari yang terkecil untuk perubahan yang besar
Selasa, 26 Agustus 2014
Senin, 03 Mei 2010
Sabtu, 01 Agustus 2009
Sabtu, 25 Juli 2009
Waktu Belajar
Dalam kegiatan belajar kami membaginya kedalam 3 waktu : 1. Waktu Belajar pukul 14.00 WIB untuk Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA/TPQ) 2. Waktu Belajar pukul 15.00 WIB untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kelas A.1 dan B.1
3. Waktu Belajar pukul 16.00 WIB untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kelas A.2 dan B.2
Dalam proses belajar PAUD kami menerapkan sistem pembagian kelas berdasarkan usia anak. A. Usia 3 - 4 tahun = Kelas A.1 dan A.2 dibagi ke dalam dua rombongan belajar. B. Usia 5 - 6 tahun = Kelas B.1 dan B.2 dibagi ke dalam dua rombongan belajar.
Sabtu, 11 Juli 2009
Keseriusan Belajar
Antusias anak-anak dalam belajar menjadi motivasi kami tetap konsisten memberikan apa yang kami miliki. Eksistensi mereka sangat berharga bagi kami, karena mereka adalah para penerus pemimpin bangsa ini. Selain itu, dukungan orang tua merupakan hal penting yang tak dapat dipisahkan dari anak-anak yang menjadi penyebab keseriusan mereka dalam belajar. Sinergi inilah yang perlu dipertahankan agar kemajuan dan kecerdasan anak-anak dapat terwujud.
Tentang Al Haidar Education : Sejarah Singkat
Berawal dari sebuah keinginan besar untuk memberikan kontribusi terhadap bangsa yang dimulai dari titik awal sebuah kegiatan belajar non-formal untuk anak-anak usia dini. Selain itu, kami melihat, ketertinggalan anak-anak SD/MI kelas I dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah yang menekankan anak mampu membaca, bukan lagi mengenal huruf.
Melihat problematika di atas kami terinspirasi dan termotivasi untuk meluangkan waktu memberikan kontribusi memfasilitasi anak-anak usia dini agar mampu mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Hal ini memberi inspirasi kami membuka sebuah wadah belajar anak-anak usia dini untuk belajar Calistung (membaca, menulis dan berhitung).
Untuk memulainya kami bermusyawarah dengan keluarga, karena dalam prosesnya kami melibatkan mereka. Diawali dengan membuat brosur sederhana yang kami perbanyak dan menempelnya di tempat-tempat umum yang ada di sekitar tempat kami. Ditambah dengan publikasi dari “omongan” yang terus kami jalankan dalam mempromosikan bahwa akan diadakan kegiatan belajar untuk anak usia dini di tempat kami.
Perjuangan kami, Alhamdulillaah, membuahkan hasil di luar dugaan kami. Respon positif masyarakat dengan mengikutsertakan anaknya dalam kegiatan belajar yang kami adakan pun mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan. Sejak kami membukanya pada Maret 2005 anak-anak usia dini yang mengikuti kegiatan belajar di tempat kami mengalami peningkatan kuantitas.
Perjalanan dalam mengelola semua ini bukan berarti tidak ada hambatan. Sebelum memulai pun hambatan sudah ada. Namun, semua itu tidak membuat patah semangat untuk terus maju dan ikut memberikan kontribusi nyata yang kita mampu untuk bangsa dan negeri ini. Hambatan yang utama adalah tempat, karena dalam kegiatan belajar kami memerlukan tempat yang layak. Disamping itu perlu adanya meja dan kursi untuk kelancaran proses belajar anak ke depan.
Hambatan-hambatan di atas perlahan-lahan kami minimalisir. Dengan diizinkannya kami menggunakan ruang tamu rumah orang tua untuk kegiatan belajar ditambah dengan adanya bantuan berupa materi untuk pengadaan muebelair.
Setelah berjalan stabil dan adanya respon positif masyarakat kami berusaha mengembangkan kurikulum belajar yang berpedoman pada Kurikulum Taman Kanak-Kanak, karena kebetulan salah satu guru pembimbingnya adalah lulusan PGTK dan berpengalaman dalam mengajar TK, sehingga lebih mudah dalam pengambangannya.
Peningkatan-peningkatan sistem belajar yang menekankan pada Calistung terus kami kembangkan dengan pedoman-pedoman yang mengalami perubahan-perubahan mengikuti perkembangan dan tuntutan pendidikan. Namun dalam pengembangan ini kami masih mengalami kendala yaitu kurangnya pelatihan-pelatihan untuk para guru pembimbing.
Keinginan yang belum terealisasi adalah tersedianya perpustakaan sederhana khusus untuk anak-anak yang mampu menampung sedikitnya 100 anak dalam membantu mereka agar lebih cinta membaca, senang belajar, dan dekat dengan ilmu. Selain itu, kami juga ingin adanya kegiatan-kegiatan atau pelatihan-pelatihan, baik untuk guru pembimbing ataupun orang tua, yang mampu akan mengubah paradigma berpikir mereka terhadap perkembangan dan tantangan anak-anak mereka ke depan dalam menghadapi perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan.
Melihat problematika di atas kami terinspirasi dan termotivasi untuk meluangkan waktu memberikan kontribusi memfasilitasi anak-anak usia dini agar mampu mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Hal ini memberi inspirasi kami membuka sebuah wadah belajar anak-anak usia dini untuk belajar Calistung (membaca, menulis dan berhitung).
Untuk memulainya kami bermusyawarah dengan keluarga, karena dalam prosesnya kami melibatkan mereka. Diawali dengan membuat brosur sederhana yang kami perbanyak dan menempelnya di tempat-tempat umum yang ada di sekitar tempat kami. Ditambah dengan publikasi dari “omongan” yang terus kami jalankan dalam mempromosikan bahwa akan diadakan kegiatan belajar untuk anak usia dini di tempat kami.
Perjuangan kami, Alhamdulillaah, membuahkan hasil di luar dugaan kami. Respon positif masyarakat dengan mengikutsertakan anaknya dalam kegiatan belajar yang kami adakan pun mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan. Sejak kami membukanya pada Maret 2005 anak-anak usia dini yang mengikuti kegiatan belajar di tempat kami mengalami peningkatan kuantitas.
Perjalanan dalam mengelola semua ini bukan berarti tidak ada hambatan. Sebelum memulai pun hambatan sudah ada. Namun, semua itu tidak membuat patah semangat untuk terus maju dan ikut memberikan kontribusi nyata yang kita mampu untuk bangsa dan negeri ini. Hambatan yang utama adalah tempat, karena dalam kegiatan belajar kami memerlukan tempat yang layak. Disamping itu perlu adanya meja dan kursi untuk kelancaran proses belajar anak ke depan.
Hambatan-hambatan di atas perlahan-lahan kami minimalisir. Dengan diizinkannya kami menggunakan ruang tamu rumah orang tua untuk kegiatan belajar ditambah dengan adanya bantuan berupa materi untuk pengadaan muebelair.
Setelah berjalan stabil dan adanya respon positif masyarakat kami berusaha mengembangkan kurikulum belajar yang berpedoman pada Kurikulum Taman Kanak-Kanak, karena kebetulan salah satu guru pembimbingnya adalah lulusan PGTK dan berpengalaman dalam mengajar TK, sehingga lebih mudah dalam pengambangannya.
Peningkatan-peningkatan sistem belajar yang menekankan pada Calistung terus kami kembangkan dengan pedoman-pedoman yang mengalami perubahan-perubahan mengikuti perkembangan dan tuntutan pendidikan. Namun dalam pengembangan ini kami masih mengalami kendala yaitu kurangnya pelatihan-pelatihan untuk para guru pembimbing.
Keinginan yang belum terealisasi adalah tersedianya perpustakaan sederhana khusus untuk anak-anak yang mampu menampung sedikitnya 100 anak dalam membantu mereka agar lebih cinta membaca, senang belajar, dan dekat dengan ilmu. Selain itu, kami juga ingin adanya kegiatan-kegiatan atau pelatihan-pelatihan, baik untuk guru pembimbing ataupun orang tua, yang mampu akan mengubah paradigma berpikir mereka terhadap perkembangan dan tantangan anak-anak mereka ke depan dalam menghadapi perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan.
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)